Keahlian

March 27, 2008

Banyak teman2 yg bilang, habis lulus ngapain? enak nya pas lulus itu dah punya kerja/usaha dulu, jadi habis lulus, langsung kerja, nggak usah cari2 kerja. bener juga, tapi pas kamu kuliah ngapain? kuliah? kerja? ato main? ada 2 fakta, pertama kita nggak bisa kerja kalo belum punya ijasah S1, fakta ke 2, kita tidak punya modal uang utk bikin usaha. kalo gak punya modal uang, kita ada modal keahlian. jangan bilang kamu nggak punya keahlian juga kan…

kamu bisa mudah bergaul sama orang, itu keahlian bos.. keahlian terpenting, karena manusia adalah makhluk sosial. kamu bisa pake utk marketing, apa yg dimarketingin? apa aja, teman-teman kamu jualin, barang orang kamu jualin, paling nggak dapet komisi kan.. kalo jual rumah, kan komisinya gedhe…

terserah kamu mau kerja jadi orang kantoran, penghasilan tetap, dapet tunjangan, ato jadi wiraswasta, penghasilan gak jelas. yang penting adalah manfaatkan keahlian kamu sebaik2nya, jadi lah kreatif.
 

untuk menambah keramaian website warungmobil.com, sang CEO saga, merubah dan menambahkan serta mengurangi beberapa fitur dari warungmobil,com. fitur inti nya adalah pasang iklan gratis. jadi kalo mau pasang iklan mobil bekas, pasang aja di warungmobil.com

Read the rest of this entry »

  

iran-president-5.jpg

Dody Salman

 

Televisi Fox Amerika pernah bertanya pada Presiden Iran Ahmadinejad : ”Saat anda bercermin di pagi hari, apa yang anda katakan pada diri anda?” Ahmadinejad menjawab, ”Saya melihat seseorang di cermin dan berkata padanya , ”Ingatlah, anda tidak lebih dari seorang pelayan kecil. Di depanmu hari ini ada tanggungjawab besar dan itu adalah melayani bangsa Iran”.

Itulah kalimat pembuka penyiar TV memperkenalkan seorang Ahmadinejad. Ahmadinejad, Presiden Iran yang mencengangkan banyak orang ketika menyumbangkan karpet Istana Presiden (berkualitas tinggi tentunya) ke sebuah masjid di Teheran. Ia lalu mengganti karpet istana dengan karpet murah.

Mantan walikota Teheran itu menutup ruangan kedatangan tamu VIP karena dinilai terlalu besar. Ia lalu meminta sekretariat istana mengganti dengan ruangan sederhana dan mengisi dengan kursi kayu. Sekali lagi fakta yang mengesankan…! Read the rest of this entry »

Anda sulit sekali merasa bahagia padahal ditilik dari semua aspek tak ada yang kekurangan? Faktor kebahagiaan yang selama ini dikenal oleh para ilmuwan adalah bahwa orang yang punya sikap positif lebih bahagia. Orang yang bisa menikmati hidup akan menjalani kehidupan dengan cara yang menyenangkan, yang tak jarang membuat orang lain iri.

Tahukah Anda, bahwa bersikap positif dan optimis akan meningkatkan harapan hidup setidaknya 7,5 tahun, hal ini dibuktikan oleh survey di Yale University setelah menghitung faktor usia, jenis kelamin, status sosial ekonomi dan kesehatan fisik. Orang yang berpikir positif lebih bisa mengurangi dampak negatif dari stres yang merusak, itulah kuncinya.

"Tentu saja mereka yang optimis juga mendapat stres," ujar David Snowdon, profesor neurologi di University of Kentucky yang mengkaji masalah pertambahan usia. "namun mereka meresponnya dengan lebih cepat sehingga status mental dan fisik yang positif terjaga."

Berikut dipaparkan lima perilaku yang diyakini para ahli dapat memperpanjang usia dan bisa Anda tiru juga, lho.

l
Gunakan ponsel Anda

Jalinlah komunikasi dengan teman atau sahabat, melalui ponsel juga bisa jika tak punya cukup waktu untuk bertemu langsung. Orang yang gemar bersosialisasi setidaknya sekali seminggu akan diberkahi otak yang tajam, umur panjang dan menghindari serangan jantung. "Bicaralah di telpon dengan teman, hal ini punya efek langsung menurunkan tekanan darah dan kadar kortisol," ujar Teresa Seeman, PhD, seorang profesor epidemiologi di UCLA.

"Penelitian kami menunjukkan bahwa memiliki hubungan jangka panjang memiliki sejumlah manfaat, antara lain menjalani kehidupan aktif dan terhindarkan dari keinginan merokok." Nah, mulai sekarang berusahalah untuk berhubungan dengan teman-teman yang anda punya. Telpon mereka, jadwalkan makan siang bersama atau sekadar ngopi di Starbucks.

l
Mereka menunjukkan rasa syukur

Tuliskan perasaan Anda mengenai kejadian menyenangkan di kertas, diary, komputer atau bahkan PDA. Orang yang suka menuliskan segala hal akan mensyukuri apa yang mereka dapat dan lebih optimis menatap masa depan. Umumnya orang seperti ini juga merasa lebih puas dengan apa yang sudah diraih sejauh ini, demikian menurut studi University of California, Davis. Orang-orang ini juga merasa fisiknya jauh lebih kuat.

"Jika Anda selalu bersyukur, sulit untuk merasa sedih," ujar Sonja Lyubomirsky, PhD, penulis buku "The How of Happiness: A Scientific Approach to Getting the Life You Want." Namun janganlah berlebihan. Orang yang menuliskan perasaan mereka di jurnal seminggu sekali mendapatkan dorongan lebih besar untuk merasakan kebahagiaan ketimbang mereka yang menuliskannya tiga kali seminggu. Temukan frekuensi yang tepat untuk Anda, dan jalankanlah.

l
Baik hati
Apakah selama ini Anda melakukan kebaikan dalam kehidupan sehari-hari? Berbuat baik akan membuahkan rasa nyaman dan bahagia dalam diri, demikian menurut penelitian Lyubomirsky. Karma berbuat baik Anda aan berbalas manis, bahkan meski tu hanya ‘kebaikan kecil’ yang Anda lakukan untuk orang lain dan tak direncanakan. Misalnya memberikan kursi Anda untuk ibu hamil di angkot, atau membelikan rekan kerja secangkir kopi atau setangkup pizza saat makan siang. Anda akan menjumpai bahwa ‘balasan’ dari tindakan manis Anda ini akan jauh lebih besar dari yang dibayangkan. "Anda akan melihat bagaimana Anda dihargai dan disukai orang lain." ujarnya. Bukankah itu menyenangkan?
l
Menghargai hidup
Ya, tentu saja Anda dapat menulis ulang sejarah dan merasa jauh lebih baik mengenai diri Anda. Sisihkan sedikit waktu setiap minggu untuk mencatat setiap kejadian yang sudah berlangsung. Merefleksikan pengalaman dapat membentuk kembali persepsi atas kejadian itu, demikian juga mengenai pengharapan Anda di masa datang, ujar Robert N. Butler, MD, presiden dari International Longevity Center-USA di New York City. Saat menciptakan ‘review kehidupan’ ini Anda akan mencatat semua pencapaian dan secara instan aan mendongkrak rasa percaya diri. Catat dan kelompokkan dalam folder terpisah menegnai kisah saat kuliah, bekerja, menikah, memiliki anak dan lain-lain.
Tuliskan kisah kesuksesan dan kegagalan yang Anda alami. Mungkin Anda akan mendapati kegagalan di satu sisi, ternyata membuahkan kesuksesan di bidang lain. Pindah dari kantor lama ternyata Anda mendapatkan suami di kantor baru. "Meski kejadian itu menyakitkan, Anda akan lebih mudah menangani masa-masa sulit itu." Jadi jujurlah, tapi jangan terlalu keras ‘menghakimi’ diri sendiri. Ingatlah Anda adalah ‘heroin’ pada dongeng yang Anda tulis.
Siapa bilang bertelepon dengan fasilitas hands free saat mengemudi aman dilakukan saat berkendara?

Anggapan ini salah besar. Bahkan sejumlah negara bagian di Amerika (termasuk California, New York, Washington, the District of Columbia, dan Connecticut) telah memberlakukan perundang-undangan mengenai penggunaan peralatan hands free untuk bertelepon saat mengemudi.

Ini karena didorong sejumlah studi yang menemukan fakta bahwa bertelepon dengan hands free saat berkendara tidak lebih aman dibandingkan bertelepon dengan tangan.

Sebuah studi yang dilakukan oleh American Psychological Association terhadap lebih dari 500 pengendara didapati bahwa aktivitas bertelepon selular mengurangi aktivitas daerah otak yang digunakan untuk mengemudi hingga separuh. Pengendara yang fokus ke ponselnya memiliki waktu reaksi yang lebih lambat , kurang begitu mengenali obyek di jalan raya dan kurang bisa mengantisipasi kepadatan di sekelilingnya. Para peneliti menyimpulkan bahwa menggunakan peralatan hands free untuk bertelepon sama bahayanya dengan yang tidak memakai fasilitas itu.

Sebuah studi berbeda yang dilakukan University of Utah menguji penggunaan hands free untuk para pengendara di jalan. Dan tidak mengherankan, pengendara yang suka berbicara di telepon sambil menyetir kerap mendapat masalah. Tampaknya bicara di telepon sambil mengemudi membuat laju kendaraan lebih pelan sehingga menciptakan kemacetan.

Studi terakhir yang dilakukan Carnegie Mellon University mempertanyakan tentang peraturan penggunaan hands-free, karena hal ini hanya menimbulkan persepsi yang salah di kalangan pengendara, khususnya menyangkut keamanan saat menyetir. Untuk menguji teori ini, ilmuwan yang mendalami tentang kerja otak Marcel Just mengamati 29 sukarelawan yang menggunakan sebuah simulator mengemudi di dalam sebuah pemindai otak MRI. Para relawan ini bertugas bicara sembari mengemudi dengan sarana virtual, dengan ada gangguan dan tidak.

Para peneliti menemukan bahwa para relawan akan mengalami gangguan berkendara saat diminta menjawab pertanyaan benar-salah. Scan otak pada pengendara yang mendapat gangguan menunjukkan penurunan aktivitas otak di area yang memproses informasi visual dan spatial, fungsi yang sangat penting untuk navigasi. Sekali lagi, hal ini membuktikan bahwa bicara di telepon saat mengemudi akan mengurangi fokus pengendara di jalan.

Kesimpulannya adalah para pengendara tidak hanya harus mempertahankan tangannya di kemudi, namun juga harus memfokuskan otaknya di jalan. Jika ditambah ‘gangguan’ menelepon atau menerima, kerja otak akan terganggu. Konsentrasi pecah, refleks melambat, sehingga rawan celaka.

Siapa bilang bertelepon dengan fasilitas hands free saat mengemudi aman dilakukan saat berkendara?

Anggapan ini salah besar. Bahkan sejumlah negara bagian di Amerika (termasuk California, New York, Washington, the District of Columbia, dan Connecticut) telah memberlakukan perundang-undangan mengenai penggunaan peralatan hands free untuk bertelepon saat mengemudi.

Ini karena didorong sejumlah studi yang menemukan fakta bahwa bertelepon dengan hands free saat berkendara tidak lebih aman dibandingkan bertelepon dengan tangan.

Sebuah studi yang dilakukan oleh American Psychological Association terhadap lebih dari 500 pengendara didapati bahwa aktivitas bertelepon selular mengurangi aktivitas daerah otak yang digunakan untuk mengemudi hingga separuh. Pengendara yang fokus ke ponselnya memiliki waktu reaksi yang lebih lambat , kurang begitu mengenali obyek di jalan raya dan kurang bisa mengantisipasi kepadatan di sekelilingnya. Para peneliti menyimpulkan bahwa menggunakan peralatan hands free untuk bertelepon sama bahayanya dengan yang tidak memakai fasilitas itu.

Sebuah studi berbeda yang dilakukan University of Utah menguji penggunaan hands free untuk para pengendara di jalan. Dan tidak mengherankan, pengendara yang suka berbicara di telepon sambil menyetir kerap mendapat masalah. Tampaknya bicara di telepon sambil mengemudi membuat laju kendaraan lebih pelan sehingga menciptakan kemacetan.

Studi terakhir yang dilakukan Carnegie Mellon University mempertanyakan tentang peraturan penggunaan hands-free, karena hal ini hanya menimbulkan persepsi yang salah di kalangan pengendara, khususnya menyangkut keamanan saat menyetir. Untuk menguji teori ini, ilmuwan yang mendalami tentang kerja otak Marcel Just mengamati 29 sukarelawan yang menggunakan sebuah simulator mengemudi di dalam sebuah pemindai otak MRI. Para relawan ini bertugas bicara sembari mengemudi dengan sarana virtual, dengan ada gangguan dan tidak.

Para peneliti menemukan bahwa para relawan akan mengalami gangguan berkendara saat diminta menjawab pertanyaan benar-salah. Scan otak pada pengendara yang mendapat gangguan menunjukkan penurunan aktivitas otak di area yang memproses informasi visual dan spatial, fungsi yang sangat penting untuk navigasi. Sekali lagi, hal ini membuktikan bahwa bicara di telepon saat mengemudi akan mengurangi fokus pengendara di jalan.

Kesimpulannya adalah para pengendara tidak hanya harus mempertahankan tangannya di kemudi, namun juga harus memfokuskan otaknya di jalan. Jika ditambah ‘gangguan’ menelepon atau menerima, kerja otak akan terganggu. Konsentrasi pecah, refleks melambat, sehingga rawan celaka.

Siapa bilang bertelepon dengan fasilitas hands free saat mengemudi aman dilakukan saat berkendara?

Anggapan ini salah besar. Bahkan sejumlah negara bagian di Amerika (termasuk California, New York, Washington, the District of Columbia, dan Connecticut) telah memberlakukan perundang-undangan mengenai penggunaan peralatan hands free untuk bertelepon saat mengemudi.

Ini karena didorong sejumlah studi yang menemukan fakta bahwa bertelepon dengan hands free saat berkendara tidak lebih aman dibandingkan bertelepon dengan tangan.

Sebuah studi yang dilakukan oleh American Psychological Association terhadap lebih dari 500 pengendara didapati bahwa aktivitas bertelepon selular mengurangi aktivitas daerah otak yang digunakan untuk mengemudi hingga separuh. Pengendara yang fokus ke ponselnya memiliki waktu reaksi yang lebih lambat , kurang begitu mengenali obyek di jalan raya dan kurang bisa mengantisipasi kepadatan di sekelilingnya. Para peneliti menyimpulkan bahwa menggunakan peralatan hands free untuk bertelepon sama bahayanya dengan yang tidak memakai fasilitas itu.

Sebuah studi berbeda yang dilakukan University of Utah menguji penggunaan hands free untuk para pengendara di jalan. Dan tidak mengherankan, pengendara yang suka berbicara di telepon sambil menyetir kerap mendapat masalah. Tampaknya bicara di telepon sambil mengemudi membuat laju kendaraan lebih pelan sehingga menciptakan kemacetan.

Studi terakhir yang dilakukan Carnegie Mellon University mempertanyakan tentang peraturan penggunaan hands-free, karena hal ini hanya menimbulkan persepsi yang salah di kalangan pengendara, khususnya menyangkut keamanan saat menyetir. Untuk menguji teori ini, ilmuwan yang mendalami tentang kerja otak Marcel Just mengamati 29 sukarelawan yang menggunakan sebuah simulator mengemudi di dalam sebuah pemindai otak MRI. Para relawan ini bertugas bicara sembari mengemudi dengan sarana virtual, dengan ada gangguan dan tidak.

Para peneliti menemukan bahwa para relawan akan mengalami gangguan berkendara saat diminta menjawab pertanyaan benar-salah. Scan otak pada pengendara yang mendapat gangguan menunjukkan penurunan aktivitas otak di area yang memproses informasi visual dan spatial, fungsi yang sangat penting untuk navigasi. Sekali lagi, hal ini membuktikan bahwa bicara di telepon saat mengemudi akan mengurangi fokus pengendara di jalan.

Kesimpulannya adalah para pengendara tidak hanya harus mempertahankan tangannya di kemudi, namun juga harus memfokuskan otaknya di jalan. Jika ditambah ‘gangguan’ menelepon atau menerima, kerja otak akan terganggu. Konsentrasi pecah, refleks melambat, sehingga rawan celaka.

Siapa bilang bertelepon dengan fasilitas hands free saat mengemudi aman dilakukan saat berkendara?

Anggapan ini salah besar. Bahkan sejumlah negara bagian di Amerika (termasuk California, New York, Washington, the District of Columbia, dan Connecticut) telah memberlakukan perundang-undangan mengenai penggunaan peralatan hands free untuk bertelepon saat mengemudi.

Ini karena didorong sejumlah studi yang menemukan fakta bahwa bertelepon dengan hands free saat berkendara tidak lebih aman dibandingkan bertelepon dengan tangan.

Sebuah studi yang dilakukan oleh American Psychological Association terhadap lebih dari 500 pengendara didapati bahwa aktivitas bertelepon selular mengurangi aktivitas daerah otak yang digunakan untuk mengemudi hingga separuh. Pengendara yang fokus ke ponselnya memiliki waktu reaksi yang lebih lambat , kurang begitu mengenali obyek di jalan raya dan kurang bisa mengantisipasi kepadatan di sekelilingnya. Para peneliti menyimpulkan bahwa menggunakan peralatan hands free untuk bertelepon sama bahayanya dengan yang tidak memakai fasilitas itu.

Sebuah studi berbeda yang dilakukan University of Utah menguji penggunaan hands free untuk para pengendara di jalan. Dan tidak mengherankan, pengendara yang suka berbicara di telepon sambil menyetir kerap mendapat masalah. Tampaknya bicara di telepon sambil mengemudi membuat laju kendaraan lebih pelan sehingga menciptakan kemacetan.

Studi terakhir yang dilakukan Carnegie Mellon University mempertanyakan tentang peraturan penggunaan hands-free, karena hal ini hanya menimbulkan persepsi yang salah di kalangan pengendara, khususnya menyangkut keamanan saat menyetir. Untuk menguji teori ini, ilmuwan yang mendalami tentang kerja otak Marcel Just mengamati 29 sukarelawan yang menggunakan sebuah simulator mengemudi di dalam sebuah pemindai otak MRI. Para relawan ini bertugas bicara sembari mengemudi dengan sarana virtual, dengan ada gangguan dan tidak.

Para peneliti menemukan bahwa para relawan akan mengalami gangguan berkendara saat diminta menjawab pertanyaan benar-salah. Scan otak pada pengendara yang mendapat gangguan menunjukkan penurunan aktivitas otak di area yang memproses informasi visual dan spatial, fungsi yang sangat penting untuk navigasi. Sekali lagi, hal ini membuktikan bahwa bicara di telepon saat mengemudi akan mengurangi fokus pengendara di jalan.

Kesimpulannya adalah para pengendara tidak hanya harus mempertahankan tangannya di kemudi, namun juga harus memfokuskan otaknya di jalan. Jika ditambah ‘gangguan’ menelepon atau menerima, kerja otak akan terganggu. Konsentrasi pecah, refleks melambat, sehingga rawan celaka.

nenek2 bahagia

March 17, 2008

siapakah ini?

Read the rest of this entry »

Bali Meeting Gives

March 17, 2008

Bali meeting gives

Read the rest of this entry »